14 February 2010

Cinta Damai

Secara naluriah sesungguh kita cinta damai. Kecintaan kita akan kedamaian kita ekspresikan dalam berbagai cara menurut watak dan bakat kita masing-masing. Ada yang melalui tulisan, karya seni dalam berbagai bentuk dan medianya, ungkapan-ungkapan kecil maupun ucapan- ucapan selamat bagi para sahabat, handai-taulan serta orang-orang diseputar kita. Sekurang-kurangnya, kedamaian hati kita, kita wujudkan dalam sekulum `senyum'.

Dalam suasana batin yang penuh kedamaian, berbagai inspirasi, kreativitas dan ide-ide jenial bermunculan; suasana batin mana sesungguhnya amat kondusif bagi kesuksesan kita di dalam menjalani hidup kita. Sebaliknya kemarahan, kebencian dan dendam meniadakan semua itu, menguburnya dalam-dalam.

Para Nabi umat manusia, menemukan kembali ajaran luhur-Nya melalui Samadhi, yang diawali oleh suasana batin damai penuh welas asih.
Memang; di jaman dan lingkungan seperti sekarang ini, suasana batin damai menjadi sedemikian sulitnya untuk dicapai. Padahal sesungguhnya itu adalah tabiat hakiki kita. Bagi sementara kita bahkan kedamaian hati telah sedemikian lamanya terkubur, sedangkan bagi yang lainnya mesti berupaya sekuat daya untuk menggali dari kuburnya. Sungguh ironis sekaligus menyedihkan; kita seakan telah kehilangan tabiat hakiki kita yang penuh kedamaian. Kenapa demikian?
Apakah yang telah menyembunyikannya dari kita?

Sikap yang cenderung memandang ke luar, kecenderungan untuk mempersalahkan pihak lain dan mencari kambing-hitam, berdalih dengan berbagai alasan atas perbuatan kita yang keliru, adalah sikap-sikap yang amat potensial mengubur kedamaian hati kita secara lebih dalam lagi. Sebaliknya memandang ke dalam, menemu-kenali kekurangan dan kebodohan kita sendiri, serta berupaya mengikisnya dengan bersungguh- bersungguh, secara pasti akan membangkitkannya lagi dari liang kubur yang kita buat sendiri. Umumnya upaya positif-konstruktif ini, bagi sementara orang, mesti dipelajari dan dilatih; walaupun bagi yang lain tidaklah sesulit itu untuk membangkitkannya.

Seorang bijak, suatu ketika pernah menyindir kita dengan
ungkapan: "Galilah kuburmu sendiri, sebelum kamu benar-benar mati."
Sindir spiritual yang mungkin terdengar agak nyeleneh bagi telinga kita, beliau ungkapkan setelah melakukan bagi diri beliau sendiri selama belasan bahkan puluhan tahun dengan amat tekun dan tekad yang membaja. Menggali dan menggali terus-menerus ke dalam batin beliau, telah melahirkan ungkapan sederhana.

Menyadari bahwasanya kita adalah makhluk yang cinta damai, adalah titik-tolak dimana kita mengawali penggalian itu. Untuk persiapannya, tergantung `bekal' yang telah kita punyai; jadi amat variatif antara orang yang satu dengan yang lainnya. Namun titik- tolaknya tetap sama, yakni Kesadaran Pribadi.

"Mari manfaatkan kesempatan ini untuk ikut berperan serta mewujudkan Bali Mandara serta Ngardi Bali Shanti lan jagaditha"

(sumber: iloveblue.com)

1 comment:

Related Posts with Thumbnails